Mengkaji Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di Politeknik

pkm

Program Kreativitas Mahasiswa atau lebih banyak mahasiswa mengenal dengan PKM adalah program kompetisi keilmiahan bergengsi tingkat nasional untuk seluruh mahasiswa di Indonesia. Bahkan event ini menjadi pertarungan gengsi antar kampus di Indonesia. Kampus-kampus besar berlomba-lomba untuk mengirimkan proposal PKM dengan jumlah besar, muara dari kompetisi ini adalah PIMNAS, sebuah event lanjutan untuk mempertemukan PKM-PKM terbaik yang telah didanai oleh Dikti. Di beberapa kampus besar di Indonesia, bahkan telah menjadi program yang mendapatkan perhatian khusus dari jajaran rektorat maupun organisasi mahasiswa. Di salah satu Institut Negeri terkemuka di Indonesia telah berhasil menanamkan rasa keharusan untuk mahasiswanya terlibat dalam membuat PKM lewat beragam program kaderisasi keilmiahannya. Mahasiswa baru diawal-awal masuk kampus telah dikenalkan dan diberikan arahan betapa pentingnya PKM ini untuk mahasiswa.

Memang jika kita mau menghayati apa sebenarnya esensi menjadi seorang mahasiswa selain untuk belajar? sebagian besar mahasiswa di Indonesia tentunya tahu, atau pernah mendengar tentang apa itu yang disebut sebagai PFM (Peran Fungsi Mahasiswa), ya…. ada lima peran disana yang harusnya dipahami mahasiswa Indonesia… Iron Stock, Moral Force, Social Control, Agent of Change, Guardian Value.. PKM adalah salah satu manifestasi atau bentuk nyata kontribusi mahasiswa sebagai Agent of Change yang berjuang dengan caranya sendiri, tidak harus dengan turun ke jalan, namun menggunakan daya nalar dan pikirannya untuk memberikan ide-ide/gagasan untuk bangsanya. Ini sebuah Kontribusi!!

Sebagai seorang yang hidup di lingkungan ilmiah yaitu kampus, sudah sepantasnya-lah mahasiswa mau menggunakan daya nalar dan pikirannya untuk berkreasi, berinovasi untuk lingkungannya. Ini adalah sebuah pembelajaran mengenai apa yang disebut sebagai kepekaan diri terhadap situasi/lingkungan disekitar yang dibungkus dalam sebuah gagasan ilmiah yang tertulis, dan tentu saja tidak hanya untuk ditulis tapi juga dilakukan. PKM adalah solusi, PKM adalah alat ukur bagaimana kita bisa menilai kehidupan ilmiah di suatu kampus itu berkembang dan berjalan dinamis. Lalu bagaiamana budaya keilmiahan itu berkembang di Politeknik?

Sayang, jika kita mau mengkaji budaya ini tidak berkembang sebaik di kampus kampus besar (Universitas & Institut) di Indonesia. Politeknik masih menjadi pemain kecil di pagelaran nasional ini. Jumlah PKM yang diusulkan dan didanai dari Politeknik masih kalah bersaing dengan kampus-kampus dari Universitas dan Institut di Indonesia. Saat PIMNAS, pengamatan Saya dari tahun 2012 hingga sekarang, Politeknik masih menjadi kontingen minoritas diantara kampus kampus besar di Indonesia. Bahkan jika jumlah kontingen Politeknik di seluruh Indonesia digabungkan dalam PIMNAS, jumlahnya masih kalah dengan kontingen dari salah satu kampus Langganan PIMNAS. ITS, UGM, UB, IPB bisa mengirimkan perwakilan lebih dari 20 tim, rata-rata Politeknik hanya berhasil mengirimkan 1-2 tim di PIMNAS.

Apa masalahnya Politeknik kalah bersaing dengan kampus-kampus tersebut? . Dalam sistem pendidikan Nasional Perguruan Tinggi di Indonesia terbagi atas Institut, Universitas, Sekolah Tinggi, Akademi, dan Politeknik. Semuanya sejajar, namun Politeknik berbeda dalam program pembentukan mahasiswanya yang diarahkan untuk mencetak tenaga-tenaga profesional atau dalam kata lain Politeknik menyelenggarakan Pendidikan Vokasi sedangkan Institut dan Universitas menyelenggarakan program pendidikan akademis. Menurut Saya ini menjadi salah satu alasan mengapa Politeknik kesulitan dalam bersaing dengan Universitas dan Insitut dalam hal PKM.

Saya sendiri merasakan sebagai seorang alumni Politeknik, memang pendidikan di Politeknik sedikit lebih berat dalam hal manajemen waktu ketimbang dengan teman-teman mahasiswa di Institut atau Politeknik. Di kampus Saya dulu, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) dalam satu minggu Saya harus menjalani perkuliahan selama 38 jam dalam seminggu, atau setiap harinya dari pukul 07.00 s.d 15.00 waktu habis dikampus. Berbeda dengan teman-teman di Institut dan Universitas yang menjalani perkuliahan 19 jam perminggunya. 38 jam perminggu belum termasuk kegiatan kemahasiswaan yang Saya ikuti, sehingga sering pulang larut malam setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan Skill dan Softskill. Kebijakan di sebagian besar Politeknik memang seperti itu, ini dikarenakan pendidikan vokasi yang mengarah pada pembentukan Skill sehingga muatan perkuliahan banyak diisi oleh praktikum di Lab, Bengkel, ataupun Workshop.

Kembali ke pokok masalah, apakah dengan alasan itu kemudian menjadikan mahasiswa Politeknik tidak dapat bersaing di PKM?

Saya rasa bukan itu masalah utamanya,….. Saya kagum dengan beberapa Politeknik di Indonesia yang terus berupaya bersaing dalam kompetisi keilmiahan ini, salah satunya adalah almamater Saya dahulu PPNS. PPNS adalah politeknik negeri yang baru pisah dari Induk institusinya yaitu ITS bersama dengan PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya). Ada hal positif semenjak perpisahan kedua politeknik tersebut dari ITS, iklim kompetisi khususnya di PKM meningkat. Barangkali memang tradisi keilmiahan ITS menular pada anak-anaknya di dua politeknik ini. ITS masih menjadi pemain besar dalam PKM dengan selalu mengirimkan perwakilan ke PIMNAS dalam jumlah yang besar.

PENS adalah salah satu politeknik yang Saya kagumi dalam upayanya bersaing dalam PKM. Tahun 2014 ini jumlah proposal yang didanai mencapai ratusan proposal dapat bersaing dengan kampus – kampus besar seperti UNAIR dan UNDIP. PPNS dalam 3 tahun terakhir ini juga mengalami perkembangan yang pesat dalam bidang ini, terbukti dengan jumlah proposal PKM 5 Bidang meningkat dalam 3 tahun terakhir ini dibawah PENS, bahkan dalam kategori PKM GT dan AI , PPNS meloloskan proposal terbanyak di level politeknik dengan 9 PKM GT dan 1 PKM AI. Dapat dilihat secara statistik, PENS dan PPNS saat ini menjadi pemain besar PKM di level Politeknik di Indonesia. Tantangannya kemudian bagaimana upaya untuk terus meningkatkan kuatitas dan kualitas PKM untuk bersaing denga kampus kampus besar lainnya.PENS sudah membuktikan Politeknik sebenarnya dapat bersaing dengan kampus kampus besar di Indonesia dalam kompetisi ini. Bukan hal yang mustahil, dan iklim di sebagian besar politeknik tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak mengembangkan budaya keilmiahan di Politeknik.

Solusi dari masalah ini adalah upaya bersama elemen-elemen yang terlibat dalam Politeknik untuk mau melihat PKM ini sebagai ajang persaingan dengan Institut dan Universitas dengan memberikan perhatian lebih pada kegiatan keilmiahan ini. bahkan PKM masih menjadi makanan asing di sebagian politeknik, ini persis dengan apa yang Saya alami dulu pada tahun 2009 ketika awal-awal masuk perkuliahan, budaya menulis khususnya tentang PKM bukan topik yang menarik untuk dicari tahu dan diperbincangkan. Berbeda dengan teman-teman Saya di ITS dulu ketika awal-awal masuk mereka telah dipaksa untuk mengerti apa itu PKM dan mengapa harus PKM. Budaya itu dapat dibangun! dapat dilakukan!

Di tingkat mahasiswa, Ormawa (organisasi mahasiswa) dapat menjadi tangan terakhir yang lebih menyentuh mahasiswa secara langsung daripada manajemen politeknik. Ormawa dapat menciptakan iklim dan budaya keilmiahan di kampus, bagaimana caranya? memang tidak mudah, namun dengan terus berupaya untuk menjadi whistle blower , menjadi jembatan mahasiswa dengan manajemen dan dosen, mengkomunikasikan dengan manajemen dan dosen, budaya ini bisa dibangun bersama. Pernah hal ini Saya lakukan dulu ketika masih menjadi mahasiswa dan kebetulan mendapatkan amanah sebagai Menteri Ristek di BEM, Saya sadar bahwa apa yang harus dilakukan adalah membangun budaya, dan tidak dapat dilakukan seorang diri, tidak dapat dilakukan BEM sendiri.

Yang dilakukan pertama adalah mengkomunikasikan dengan pihak pihak yang berkaitan langsung, yaitu dosen dan perwakilan mahasiswa yang terhimpun dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan/prodi dan UKM (Unit kegiatan Mahasiswa). Pada tahun itu juga diaktifkan kembali UKM Penalaran yang setahun sebelumnya sebenarnya telah berdiri namun tidak dapat berkembang. Ketiga elemen ini berkomuniasi yang kemudian disebut sebagai Segitiga Ristek (UKM Penalaran, BEM, dan Himpunan Mahasiswa). Maksud dari konsep ini dulu adalah, ketiga elemen ini bekerja pada porsinya masing-masing dan saling melengkapi. UKM Penalaran sebagai fungsi supporting , menyediakan sumber daya yang dibutuhkan entah itu SDM (mencarikan dosen pembimbing, konsultasi dengan dosen), mencarikan contoh/bahan yang mendukung penulisan PKM. BEM sebagai jembatan yang mengkomunikasikan antara UKM Penalaran dan Himpunan Mahasiswa serta sebagai Regulator yang menjembatani mahasiswa dengan Manajemen Politeknik (lebih banyak dalam lobying dengan manajemen) serta Himpunan Mahasiswa yang mempunyai peranan strategis langsung berhubungan dengan mahasiswa di jurusannya untuk memfasilitasi dan memotivasi dengan dukungan dari BEM dan UKM Penalaran.

Hal kecil lainnya yang dilakukan saat itu adalah bagaimana menjadikan topik PKM ini menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan dan menjadi bahasan oleh mahasiswa. BEM karena disana mempunyai akses lebih luas berupaya untuk menciptakan topik (opini publik) pada tataran mahasiswa tentang apa itu PKM, apa manfaaat PKM, dan mengapa harus PKM. Saat itu BEM menerbitkan brosur kecil yang dalam penyebarannya dipastikan setiap satu mahasiswa mendapatkan satu brosur, membagikan di setiap kelas. Ternyata dari usaha yang dilakukan saat itu dapat meningkatkan jumlah pengiriman proposal PKM. Hal itu berlanjut hingga tiga tahun terakhir ini PPNS mengalami peningkatan yang signifikan dalam pengiriman proposal PKM.

Tentu saja jika melihat dari pengalaman yang Saya alami itu, sebenarnya memang sangat mungkin Politeknik bersaing di PKM. Hanya saja memang perhatian dari elemen-elemen politeknik didalamnya harus bersinergi dan mau memikirkan bagaimana budaya keilmiahan itu dapat dikembangkan. Dosen siap membimbing, Manajemen siap memfasilitasi, Ormawa siap memotivasi, dan Mahasiswa mau beraksi. Saya masih sangat bangga menjadi mahasiswa Politeknik dan menginginkan mahasiswa politeknik tidak hanya puas dengan kondisi yang ada sekarang, dapat bersaing dengan mahasiswa di Institut dan Universitas, karena pada dasarnya dalam hal skill sudah tidak diragukan lagi mahasiswa Politeknik dipastikan mempunyai kecakapan skill dengan menjalani program pendidikan yang telah berjalan di kampus, tinggal bagaimana memoles dan mengejar kemampuan Softskill termasuk dalam hal menulis….

Menjadi Mahasiswa Politeknik yang ++ (Plus) cakap dalam Skill dan Softskill,….. Vivat Politeknik!!

Rachmad Andri Atmoko

 

Related posts

Leave a Comment