http://asuransimarineindo.com
OPINI MAHASISWA

Peran Mahasiswa Teknik Perkapalan untuk Indonesia

Berdasarkan data Kementrian Pekerjaan Umum, Indonesia masih kekurangan sarjana dari bidang teknik. Dari data tersebut, kita bisa mengetahui selain Indonesia masih mempunyai pekerjaan rumah yaitu jumlah sarjana teknik di Indonesia yang masih kurang, jumlah sarjana teknik yang kompeten di bidangnya dan diakui secara internasional juga masih sedikit.

Rasio insinyur Indonesia saat ini hanya 2.671 orang per sejuta penduduk. Di Korea Selatan, perbandingannya mencapai 25.309 insinyur per satu juta penduduk.

Kurangnya sarjana teknik ini selain berdampak langsung kepada laju pembangunan suatu negara juga membuat negara kita otomatis membutuhkan engineer dari luar negeri, tentu ini sangat disayangkan. Di saat angka pengangguran terdidik yang masih tinggi, kita justru mendatangkan tenaga kerja asing.

Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam seperti biji besi, nikel, batu bara, tembaga, dan hasil tambang lain yang notabene adalah bahan bahan mentah untuk pembuatan mesin, baja, dan hasil olahan tambang seharusnya menjadikan indonesia  menjadi negara maju dan bisa mandiri dalam hal permesinan dan teknologi, tetapi pada kenyataanya tidak, kita masih belum mandiri dan masih bergantung dengan negara lain. Ini tentu bisa kita pahami dengan kurangnya Insinyur di Indonesia seperti yang sudah saya paparkan diatas, tetapi tentu tidak menutup kemunkinan juga kurangnya kompetensi pekerja indonesia sendiri, dan pemerintah yang tidak mendukung lulusan teknik.

Di bidang Perkapalan sendiri sudah menjadi rahasia umum bahwasanya meskipun keseluruhan dari badan kapal kita bisa membuatnya, tetapi  untuk mesin kapal kita masih bergantung pada luar, karena kita belum mampu memproduksinya.  Tentu ini adalah tantangan buat kita sebagai mahasiswa Perkapalan untuk bisa beriniovasi agar kedepannya bangsa kita tidak bergantung pada luar dan dapat memproduksi mesin kapal sendiri.

Mengapa dapat memproduksi mesin kapal ini menjadi penting? Begini, kita tentu mengetahui bersama bahwa negara kita yang kaya ini adalah pengekspor bahan bahan mentah untuk pembuatan mesin. Ketika bahan bahan mentah ini mengalami penurunan harga, otomatis ekonomi kita juga ikut lesu, tetapi tentu hal ini berbeda bila kita lebih berfokus kepada pembuatan mesin jadi. Karena harga mesin selalu dan dapat dipastikan cenderung naik dan tidak pernah turun. Tentu bukan hanya mesin kapal, berbgai mesin maupun onderdil otomotif pun seharusnya mampu kita buat. Syukur lagi jika kita bisa memproduksi motor dan mobil sendiri.

Belum lama ini dunia kemaritiman Indonesia juga dikejutkan dengan pembangunan terusan Kra yang ada di Thailand, yang diperkirakan akan selesai di tahun 2025. Terusan Kra ini mau tidak mau akan berdampak langsung dengan perekonomian Indonesia, karena berkurangnya kapal kargo yang singgah ke indonesia, dan bisa dipastikan akan mematikan industri kargo yang ada di Indonesia:  Tanjung Priuk, Tanjung Perak, Belawan, Makassar, dsb.

Tentu tidak hanya itu problem yang sedang kita hadapi sekarang ini.  Birokrasi kita juga sangat kotor. Tetapi dari permasalahan2 yang sudah saya paparkan di atas, kita sebagai mahaswiwa terlebih lagi mahasiwa perkapalan seharusnya lebih semangat lagi untuk belajar, dan berinovasi lebih banyak lagi. Tantangan kita kedepan juga semakin besa, kita harus bisa berinovasi yang bisa berguna untuk nelayan nelayan Indonesia, untuk industri kita, dan tentu dengan cara seperti itulah kita bisa membuat negara Indonesia dikagumi lagi oleh dunia. Ingat, negara kita adalah negara maritim, kita wajib memajukan kemaritiman kita. Kalau bukan kita mahasiswa Perkapalan siapa lagi yang akan memajukanya?

 

Ditulis : Fiki Mochamad A