Waspadai Serbuan Tenaga Asing, Politeknik Perkapalan Perlu Lakukan Upaya Ini

fgd

SURABAYA – Era Masyatakat Ekonomi Asean (MEA) membawa dampak pada sejumlah bidang. Salah satunya adalah penerimaan pegawai asing di bidang maritim.Hal ini disampaikan Direktur Utama PT PAL, Firmasnyah Arifin.

Menurutnya, Indonesia kini masih membutuhkan sumber daya manusia yang berkompeten serta mengikuti perkembangan teknologi terbaru.

“Kita di era MEA, mau tidak mau industri harus memiliki tenaga kerja yang mampu bekerja secara maksimal  supaya Indonesia ini tidak hanya sebagai tempat kerja orang asing, dan bisa bersaing,” katanya saat sesi istirahat acara Focus Group Discussion (FGD) tentang Inovasi Industri Perkapalan di Jawa Timur, di kampus Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), Jumat (7/10/2016).

Firmsyah menuturkan Indonesia harus punya cara yang sistematis untuk menanggapi hal ini.

“Kalau tidak, kita bisa kalah. Misalnya saja China, negaranya saja tidak bisa membendung penyebaran warga negaranya, sementara dari sisi skill dan etos kerja, mereka bagus dan tinggi, takutnya ke depan warga negara tidak memiliki kesempatan. Dalam hal ini perguruan tinggi sebagai tempatnya akademisi, calon tenaga kerja harus berinovasi,” katanya.

Menanggapi kebutuhan ini Kemristekdikti, melalui Perekayasa di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), Tatang A. Taufik menuturkan saat ini penting bagi perguruan tinggi negeri mempunyai sebuah badan pelatihan, yang nantinya bisa mengeluarkan sertifikat keahlian bagi lulusannya.

“Salah satu perguruan tinggi misalnya PPNS ini, saya kira sudah saatnya memberikan pelatihan yang bersertifikat sehingga lulusannya bisa diterima dimana saja. Jadi nanti saat melamar pekerjaan semua  harus punya sertifikasi keahlian. Ini salah satu tantangan perguruan tinggi,” tegasnya.

Tatang menambahkan, kedua kunci daya saing di era Mea juga terletak pada inovasi, baginya lulusan PT tidak hanya dicetak sebagai sebagai tukang tapi juga punya inovasi. Ketiga ia juga berpesan agar PT punya aktifitas bersama penelitian dengan industri.

“Jadi bisa saling nemenuhi,” tambahnya lagi.

Dalam persiapannya, Eko Julianto, Direktur PPNS menjawab pihaknya memang sedang malalui tahap ini. Salah satu upaya awal adalah mengundang sejumlah industri perkapalan di Jawa Timur untuk diskusi bersama. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan industri perkapalan.

“Diskusi ini yang mempercepat proses itu, sejak awal kami jadi tahu apa yang kami miliki dan apa yang dibutuhkan industri. Kami mengundang induatri perkapalan seperti PT. PAL, Adiluhung, Terafulk, dll serta akademisi dari ITS,” katanya.

Eko ikut menambahkan saat ini para pemangku kepentingan punya kepentingan yang sama, yaitu membangun sinergitas dengan pelaku usaha, perguruan tinggi, provinsi dan kabupaten kota, menciptakan suasana saling membutuhkan.

“Jadi kami gencar melakukan ABG (academic, businessman, government). Kebijakan sekarang akademis disorot, jurnal terus tapi memang harus ada inovasi nyata, ini proses hilirisasi,” tutupnya.

sumber : http://surabaya.tribunnews.com/2016/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *